Lumajang – Menyusul abu letusan Bromo menguyur lahan pertanian Desa Argosari Kecamatan Senduro sebagai penghasil komoditi sayuran. Harga sayuran di sejumlah pasar di Lumajang mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Pantauan harga sayuran di pasar Baru Lumajang, kenaikan ini terjadi pada seluruh sayuran yang biasa dibeli pedagang dari daerah Tengger khususnya Desa Argosari seperti kol, wortel, kentang, sawi, seladri dan bawang daun. Kenaikan sayuran mencapai 50 persen lebih.

“Pokoknya sejak Bromo meletus dan merusak tanaman sayuran di Malang, Pasuruan, Lumajang dan Probolinggo, harga sayuran tak karuan dan naik setiap hari,’ ungkap Suryati pedagang sayur di Pasar Baru Lumajang, Selasa (04/01/2010).

Dia menambahkan, karena permintaan pasar masih banyak dan pasokan setiap harinya terus sedikit, akibatnya semakin mahal. “Harga naik karena petani menaikan harganya,” ujar Suryati yang diiyakan pedagang lainya.

Harga sayuran di Pasar Baru di Lumajang untuk kol Rp 1.200/kg, kentang Rp 4 ribu/ kg, wortel Rp 2 ribu/ kg, bawang daun 6 ribu/ kg, sawi putih Rp 1.500/ kg dan seledri Rp 6 ribu/ kg. Setelah terjadi kenaikan, harga kol menjadi Rp 3 ribu/ kg, kentang Rp 6.500/kg, wortel Rp 4 ribu/kg, bawang daun Rp. 10 ribu/kg, sawi putih Rp 3 ribu/kg, dan seladri menjadi Rp 12 ribu/kg.

Mahalnya harga komoditi sayuran diakui oleh pedagang sangat memberatkan para pembeli. Pembeli yang biasanya membeli dalam jumlah kiloan, sekarang harus mengurangi jumlah pembeliannya.

“Kalau dulu pembeli membeli satu kilo, sekarang cuma setengah kilogram,” ungkap Khodijah.

Selain harganya terus mahal, kualitas sayuran juga tidak baik dan bersih. Bahkan pada syuran Kol, bawan, seledri ditemui masih ada abu Bromo.

“Saat ada pembeli sayuran, saya bilang tolong dibersihan menggunakan air agar kotoran abu bisa hilang,” ungkapnya. (Sumber :beritajatim.com)