Siapapun yang memiliki kepribadian yang dikembangkan dengan baik untuk menghargai kecantikan akan setuju bahwa tidak ada di langit atas yang keindahannya dapat di bandingankan dengan pemandangan bulan sabit baru bersama bintang yang muncul bersama dalam pelukan yang memikat. Berlalunya bulan baru di langit atas mengisyaratkan berlalunya kehidupan itu sendiri. Maka dari itu, saat wanita baru lahir, dia bagaikan bulan baru yang muncul di langit dan alam baru yang datang menjadi nyata. Setiap orang mengaguminya, setiap orang mengambilnya dalam dekapan cinta mereka. Dia merangkak, dia berjalan, dia bermain, dia tertawa, dia bernyanyi, dia menari.
Dengan cerita, dia melewati waktu musim semi dari masa kecil dan masa mudanya. Dia adalah keajaiban yang dapat disaksikan. kemudian dia merona dengan malu-malu saat dia menyambut waktu musim panasnya ketika dia mekar dan tumbuh menjadi wanita yang lebih cantik daripada hujan pelangi yang jatuh dengan lembut di atas mahkota mawar. Dunia takjub dengan kecantikannya dan dari bibirnya keluar kata: Subhan Allah!
Penyanyi bernyanyi tentangnya, penyair menulis puisi indah tentangnya. Dan ini pun adalah keajaiban yang dapat disaksikan. Kemudian musim gugur mendatanginya saat daun-daun hijau dari hidupnya mulai menguning. Keriput muncul disekitar matanya dan disana-sini helai-helai rambutnya memutih. Akhirnya musim dingin mendatanginya ketika sang bulan kembali menjadi bentuk tandan yang tua (QS Yasin 36:39) dan dia siap dengan bahagia menutup tendanya, berkata selamat tinggal dan menghilang dalam kegelapan malam.
Namun, dia sangat bersyukur kepada Allah Maha Tinggi atas semua perjalanan hidupnya mengarungi waktu. Saat dia menikmati waktu musim seminya dia berterima kasih kepada-Nya, dan begitu juga atas musim panasnya dan juga musim gugurnya, dan akhirnya musim dinginnya. Dia bangga atas rambut putihnya yang mulai bercampur baur dengan warna alami rambutnya. Dia tidak pernah ingin kembali ke waktu musim semi atau musim panasnya karena dia juga mencintai musim gugur dan musim dinginnya. Dengan demikian dia menua dengan bahagia. Semakin tua dia tumbuh, semakin banyak kecantikan yang dia pancarkan sinar ekspresi kecantikan batin (inner beauty).
Dan saat tiba waktunya malaikat pencabut nyawa mengambil nyawanya, seperti ketika bulan menghilang dalam kegelapan langit dan gelap malam menyelimuti dunia, tidak ada rasa sesal pergi dari satu-satunya alam yang pernah dia ketahui. Dia ingin meninggalkan alam ini dengan penuh syukur kepada Allah dari dalam lubuk hatinya karena Dia telah menjanjikan orang-orang yang bersyukur kepada-Nya akan dilimpahkan berkah dan pahala serta balasan kebaikan yang berlipat-lipat (QS Ibrahim, 14:7).
Dia tidak mengeluh! Dia tidak berbagi kesedihan dengan ratapan kaisar India. Kemudian dia mengutip dari seorang India yang bernama Bahadur Shah Zafar: “Umr daraz maang layay thay chardin, Do ar zoo main kat gayay thay, do”
maksudnya adalah “Dari kotak kehidupan, aku telah mencari dan menemukan (masa hidup) empat hari, dua hari telah hilang untuk berharap dan dua hari untuk menunggu”. by SIH.
Every day is mom day. Selamat hari ibu. – with Ida

View on Path