Namun demikian, pertanyaan yang harus diajukan selanjutnya adalah apakah undangan untuk menetap di Tanah Suci adalah tanpa syarat? Akankah undangan itu tetap sah jika keturunan mereka meninggalkan agama Ibrahim as dan menjadi ateis, atau melakukan pelacuran dan penindasan? Akankah itu tetap sah jika di Tanah Suci tersebut, bangsa Yahudi kemudian mendirikan negara sekuler yang menyatakan ‘Kekuasaan Tertinggi’ dimiliki oleh negara, bukan oleh Tuhannya Ibrahim, dan bahwa hukum tertinggi adalah hukum negara dan bukan hukum Allah? Akahkah itu tetap sah jika negara tersebut menyatakan Halal (mengijinkan) hal-hal yang Allah Maha Tinggi telah menjadikannya Haram (terlarang)? Pembaca seharusnya ingat bahwa Tuhannya Ibrahim as melarang penerimaan dan pemberian uang pinjaman dengan bunga (Riba). Bangsa Yahudi mengubah Taurat agar pemberian uang pinjaman dengan bunga kepada bangsa non-Yahudi diperbolehkan. Bukan saja Riba yang diperbolehkan di Tanah Suci pada saat ini, tetapi juga banyak hal-hal lain yang juga dilarang oleh Allah Yang Maha Tinggi.

Reading Jerusalem in the Qur’an by Imran Nazar Hosein

View on Path