Mereka dulu mengatakan, “Kami serang dulu Suriah, setelah itu baru kami ke Palestina untuk taklukkan Israel.”

Kini, saat menyerang Yaman, mereka berkata, “Raja Salman meniru Salahudin Al Ayubi, menyerang Syiah dulu, baru melawan Romawi.”

Mereka pura-pura lupa: yang menjual senjata ke Arab Saudi adalah AS. Apakah mereka kira AS mau menjual senjata-senjata itu bila digunakan Arab Saudi untuk menyerang Israel?!

  1. Saat Hosni Mubarak digulingkan melalui aksi-aksi demo masif rakyatnya sendiri, Arab Saudi secara resmi menentang penggulingan itu, tapi tak melakukan apapun.
  2. Saat Presiden Mursi dikudeta, Saudi mengucapkan selamat pada Jenderal Al Sisi dan memasukkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris.
  3. Saat Presiden Bashar Assad diperangi oposisi dan pemberontak, Saudi mendukung (dan membiayai) pemberontak itu.
  4. Saat rakyat Bahrain berdemo besar-besaran untuk menuntut raja dari dinasti Al Khalifah mundur, Saudi mengirim pasukannya untuk menembaki dan menangkap para demonstran.
  5. Saat rakyat Palestina lebih 60 tahun berjuang melawan Israel yang menjajah tanah air mereka, Saudi diam saja.
  6. Saat rakyat Yaman dari berbagai faksi dan mazhab berdemo besar-besaran memprotes rezim Mansour al Hadi, Saudi membombadir Yaman.

Kesimpulan: peta lawan-dan-kawan Saudi sangatlah acak, tidak melulu Sunni atau melulu Syiah. Jadi akar konflik bukan mazhab, tapi kepentingan (uang & kekuasaan).

Nomor 6 bisa memicu perang nuklir yang sebentar lagi terjadi. Allahua’lam

#Seniberfikirkritis

http://goo.gl/KyzGKs

View on Path