Brinkmanship adalah tindakan mendorong suatu keadaan berbahaya ke ambang kehancuran demi meraih keuntungan sebesar-besarnya. Brinkmanship diterapkan dalam politik internasional maupun nasional, kebijakan luar negeri dan dalam negeri, hubungan tenaga kerja, dan strategi militer yang melibatkan ancaman penggunaan senjata, perang sipil dan tuntutan hukum tingkat tinggi.

Tujuan utama dari Brinkmanship ini adalah MAD [Mutually Assured Destruction] yaitu sebuah keadaan yang memastikan kehancuran diantara dua belah pihak yang bertikai. Bahasa sederhannya adalah adu domba atau pecah belah dan hancurkan.
Keragaman ras/suku bangsa, agama dan keyakinan, serta warna kulit adalah salah satu hal yang paling sensisitif dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, dimana keragaman inilah yang menjadi titik kelemahan masyarakat sehingga strategi brinkmanship untuk menciptakan MAD di tanah Nusantara ini adalah suatu hal yang mungkin bisa dibilang mudah untuk direalisasikan.
Penjajah Belanda dahulu telah berhasil membuktikannya. Kini, ada pihak tertentu sebagai mata rantai dari peristiwa geopolitik di sungai eufrat, yang menginginkan hal tersebut kembali hadir di negara Indonesia dan tentu saja tujuannya hanya satu yaitu menguasai sepenuhnya kekayaan alamnya dengan memperbudak rakyat di negara tersebut melalui manusia-manusia yang bisa bahkan mudah dibeli dengan harta, tahta/jabatan, pengaruh, kekuasaan, dan isi dunianya.
Terminologi dari situasi dan kondisi peristiwa 411 dan AHK adalah korek api yang telah dinyalakan sebagai brinkmanship untuk mewujudkan MAD di negara ini.
Dan yang begitu menyedihkannya adalah mereka terus menyiram korek api yang telah menyala tersebut dengan bensin berupa arogansi dalam beragama dan golongannya. Baik pendukung 411 maupun pendukung AHK. Sadarkah mereka kemana arah dan tujuan dari itu semua?
Semoga Allah menyempurnakan petunjukNya yang lurus kepada kami agar kami lebih dekat kebenaranNya (daripada) ini semua. Insya Allah….

Maulana Awaludin via kampungmuslim.org

View on Path